ITS diisukan menjadi kampus BHP. Siapkah mahasiswa ITS menghadapinya?Menolak atau menerima?
Klik untuk memilih tab akhir
Isi Tab 2
Isi Tab 2

Jumat, 01 Juni 2012

jenis jenis makna


A.      Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

1. Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun.
Contoh : Bulpoin : Sejenis alat tulis yang terbuat dari plastik dan menggunakan tinta.
Kerbau : Sejenis binatang berkaki empat yang biasa digunakan untuk membajak.
Buku : Sejenis barang yang digunakan untuk media tulis, terbuat dari kertas.

2. Makna gramatikal : Makna yang baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi.
Contoh : Bersepeda : Mengendarai sepeda.
Berseragam : Memakai seragam
Berjanji : Melakukan atau mengucap janji


3. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks.
Contoh : kata tangan dalam berbagai konteks berikut :
Tanaganya patah gara-gara jatuh : Anggota tubuh.
Dia adalah tangan kanan sang Jenderal : Orang kepercayaan.
Dia adalah anak yang tangan panjang : Suka mencuri.

B. Makna Referensial dan Non Referensial
1. Makna Referensial : Makna yang mempunyai referen atau acuan .
Contoh : baju, kain, buku

2. Makna Non Referensial : Makna yang tidak mempunyai referen.
Contoh : dan, atau, tetapi

C. Makna Denotatif dan Konotatif
1. Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal , makna sebenarnya yang dimiliki leksem.
Contoh : kurus, gemuk, kuda.

2. Makna Konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang mengunakan makna tersebut.
Contoh : babi, anjing, sapi.

D. Makna Konseptual dan Asosiatif
1. Makna Konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata tersebut dengan konsep.
Contoh : sapi, rumah, kursi.

2. Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa.
Contoh : kantil, merah, domba.

E. Makna Kata dan Makna Istilah
1. Makna Istilah adalah makna yang baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam suatu konteks kalimat atau konteks situasinya.
Contoh : diagnosis, sinonim, embrio
2. Makna Kata adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat.
Contoh : batu, sepatu, tali

F. Makna Idiom dan Peribahasa.
1. Makna Idiom adalah makna yang tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun gramatikal.
Contoh : besar kepala, berhati besar, bertangan dingin.

2. Makna Peribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan makna sebagai peribahasa.
Contoh : Bagai katak dalam tempurung.
Tak ada gading yang tak retak.
Bagaikan kucing dan anjing.

2. Macam-macam relasi makna

A. Sinonim
Adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainya.
Contoh : tembok = dinding
Mati = meninggal
Melihat = memandang


B.Antonim
Adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, kontras antara yang satu dengan yang lain. Dapat dibedakan :
a. Antonim bersifat mutlak : hidup x mati.
b. Antonim bersifat relatirf/ bergradasi : panjang x pendek
c. Antonim bersifat relasional : anak x bapak.
d. Antonim bersifat hierarkial : gram x kilo gram
e. Antonim bersifat majemuk : berdiri x duduk, jongkok, ambruk.

C. Polisemi
Adalah satuan bahasa ( kata ) yang memiliki makna lebih dari satu.
Contoh : Kaki : kaki meja, kaki saya, kaki gunung.
Kepala : Kepala sekolah, kepala kantor, kepala saya.

D. Homonim
Adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “ kebetulan “sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan.
Contoh : Bisa : dapat, racun.

a. Homofon
Adalah kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran , tanpa memperhatikan ejaanya.
Contoh : Sangsi : Sanksi
Bank : Bang
b. Homograf
Adalah bentuk ujaran yang sama bentuk etnografinya atau ejaanya , tetapi ucapan dan maknaya tidak sama.
Contoh : Apel
Teras
Memerah

E. Hiponim
Adalah hubungan semantik antara sebuah ujaran yang maknaya tercakup dalam bentuk ujaran yang lain.
Contoh :
Bus
Mobil
Alat transportasi Becak
Kapal terbang
Kapal laut

Bus adalah hiponim dari alat transportasi.
Alat transportasi adalah hipernim dari bus.

G.Ambiguiti dan Ketaksaan
Adalah gejala dapat terjadi kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : Toni makan ikan mati
Buku sejarah baru
Gambar Toni kecil

H. Redunansi
Adalah berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Contoh : Saya dipukul dengan menggunakan kayu oleh bapak saya.
(Saya dipukul kayu oleh bapak)
Anak yang memakai baju berwarna biru itu adalah adik saya.
( Anak yang berbaju biru itu adik saya)
Anak yang sedang mengendarai sepeda itu pernah memukul saya dengan menggunakan besi.
(Anak yang bersepeda itu pernah memukul saya dengan besi)

..makna Meluas/generalisasi
Makna kata sekarang lebih luas daripada makna asalnya.
Contoh:Petani,peternak,berlayar,ibu,dan sebagainya.
2.Menyempit/spesialisasi
Makan sekarang lebih sempit daripada makna asalnya
Contoh:Pendeta,sarjana,sastra,pembantu,dan sebagainya.
3.Amelioratif
Makna kata sekarang lebih baik daripada makna kata asalnya.
Contoh:Wanita,pramuniaga,warakawuri,rombongan,dan sebagainya.
4.Peyoratif
Makna sekarang lebih jelek daripada makna kata asalnya.
Contoh:Kawin,gerombolan,oknum,perempuan,dan sebagainya.
5.Sinestesia
Makna kata yang timbulkarena tanggapan dua indera yang berbeda.
Contoh:Namanya harum
6.Asosiasi
Makna kata yang timbul karena persamaan sifat.
Contoh:Hati-hati menghadapi tukang catut di bioskop itu.

menyempit/spesialisasi
Kata yang tergolog kedalam perubahan makna ini adalah kata yang pada awal penggunaannya bisa dipakai untuk berbagai hal umum, tetapi penggunaannya saat ini hanya terbatas untuk satu keadaan saja.
Contoh :
Sastra dulu dipakai untuk pengertian tulisan dalma arti luas atau umum, sedangkan sekarang hanya dimaknakan dengan tulisan yang berbau seni. Begitu pula kata sarjana (dulu orang yang pandai, berilmu tinggi, sekarang bermakna “lulusan perguruan tinggi”).

b. meluas/generalisasi
Penggunaan kata ini berkebalikan dengan pengertian menyempit.
Contoh :
Petani dulu dipai untuk seseorang yang bekerja dan menggantungkan hidupnya dari mengerjakan sawah, tetapi sekarang kata tersebut dipakai untuk keadaan yang lebih luas. Penggunaan pengertian petani ikan, petani tambak, petani lele merupakan bukti bahwa kata petani meluas penggunaannya.

c. amelioratif
Pada awalnya, kata ini memiliki makna kurang baik, kurang positif, tidak menguntungkan, akan tetapi, pada akhirnya mengandung pengertian makna yang baik, positif, dan menguntungkan.
Contoh :
Wanita, pramunikmat, dan warakawuri merupakan kata-kata yang dipakai untuk lebih menghaluskan, menyopankan pengertian yang terkandung dalam kata-kata tersebut.

d. peyoratif
Makna kata sekarang mengalami penurunan nilai rasa kata daripada makna kata pada awal pemakaiannya.
Contoh :
Kawin, gerombolan, oknum, dan perempuan terasa memiliki konotasi menurun atau negatif.

e. asosiasi
Yang tegolong kedalam perubahan makna ini adalah kata-kata dengan makna-makna yang muncul karena persamaan sifat. Sering kita mendengar kalimat “hati-hati dengan tukang catut itu.”
Tukang catut dalam kalimat diatas tergolong kata-kata dengan makna asosiatif. Begitu pula dengan kata kacamata dalam : menurut kacamata saya, perbuatan anda tidak benar

f. sinestesia
Perubahan makna terjadi karena pertukaran tanggapan antara dua indera, misalnya dari indera pengecap ke indera penglihatan.
Contoh:
Gadis itu berwajah manis. Kata manis mengandung makna enak, biasanya dirasakan oleh alat pengecap, berubah menjadi bagus, dirasakan oleh indera penglihatan. Demikian juga kata panas, kasar, sejuk, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar